Just another WordPress.com site

Ketika Ilmu Kehilangan Peranannya

Oke, mari kita mulai membicaraan ini dengan hati yang sedikit berkurang kgejolaknya. Terus terang, keadaan yang ada di hadapanku 180 derajat berbeda dengan apa yang aku alami 8 tahun lalu, saat aku seusia mereka. Bagiku, ilmu adalah baju. yang harus ku pakai terus menerus. Tanpa ilmu, aku telanjang. dan jika aku telanjang, maka aku tak akan lagi punya muka untuk menatap dunia. Bagiku, ilmu adalah harta. tanpa ilmu, aku tak akan mampu bersenang-senang dan membeli apapun. Bagiku, ilmu adalah identitas. tanpa ilmu, mungkin aku bukan siapa-siapa dan orang tak mungkin mengenalku. Bagiku, ilmu adalah semangat. tanpa semangat, aku tak akan bisa melakukan apa-apa, bahkan mungkin aku tak akan bisa menghasilkan apa-apa. oleh karena itu, aku tak pernah lelah mencari ilmu. aku bertanya kepada siapapun, tentang hal apapun yang aku tak tahu. entahlah, rasanya gairah ini tak pernah berhenti untuk mencari ilmu dan pengetahuan.. bahkan di usiaku yang sekarang ini, yang pada umumnya memasuki usia-usia kerja, aku masih giat mencari tau tentang apapun. maaf, bukannya aku sombong, hanya saja, ilmu adalah kebanggaanku. harta aku tak punya, wajah, aku pun tak rupa.

namun satu yang membuat aku miris, di sini aku terduduk diam, di depan 36 kepala yang tentu saja berotak. namun hanya segelintir yang benar-benar membutuhkan ilmu. saat ada 4 kepala sebagai pembicara di depan, dan 32 kepala yang lain sebagai audience, hanya beberapa kepala yang benar-benar memperhatikan. bahkan, jari tanganku saja tak habis untuk menghitung mereka yang memperhatikan. aku bingung, apa mereka tak butuh ilmu, tak mau tahu, atau ilmu tak penting bagi mereka? mereka-mereka yang mengabaikan hanya bisa memperhatikan setiap sudut wajahku, kemudian memnjadikannya pembicaraan dengan teman-teman yang lain. kalau tidak memperhatikan wajahku, mereka akan memukul-mukul bangku bak drummer hebat dan menyanyi sesuka mereka.

oh my, this is classroom. apa mereka memang dungu, atau obsesi sebagai drummer mengalahkan rasionalitas mereka?

di sini, aku. guru mereka. penransfer ilmu mereka. seharusnya

tapi yang terjadi

aku, di sini. hanya pajangan. miris.

 

apa aku terlalu lelah untuk mengingatkan mereka? atau mereka yang berotak batu, sehingga tak mengerti bahasaku? entahlah…

dalam hati aku berujar, “Terima kasih Tuhan, telah mendamparkanku di tempat ini. di sini aku bisa belajar banyak hal, bahwa ilmu memiliki arti dan peran yang berbeda di setiap kepala yang berbeda. Dan aku masih mempunya segelintir murid yang melakukan perannya dengan baik, dan masih memberikan peran untuk ilmu yang sesuai.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s