Just another WordPress.com site

Gula, dan Yang Tak Tersebut

Dan tentu saja dengan komando sebelumnya dari atasan, aku dan tiga orang rekanku segera memasuki perpustakaan yang lama tak terpakai. kami tidak berempat, melainkan bersama segerombolan pencari ilmu. kami berbondong-bondong masuk dengan maksud membersihkan isi perpustakaan ato lebih tepatnya gudang buku, agar semua tertata rapi dan bisa berfungsi sebagaimana mestinya. hal pertama yang menyapa kami ketika kami masuk adalah debu, dan pasti bau apak dari tumpukan buku-buku yang tak tersentuh. dengan sedikit perasaan jijik, perlahan aku menurunkan buku-buku tersebut, agar kami bisa membersihkan rak tersebut. panas yang tak tertahankan mau tidak mau harus kurasakan tatkala harus berbaur dengan para pencari ilmu yang juga berada di dalam perpustakaan…

jujur saja, ingin rasanya aku keluar dari gudang buku ini, mencuci tangan, dan menikmati irisan-irisan melon yang telah terhidang di meja kantor. namun nuraniku terpanggil untuk menyentuh buku-buku yang tergeletak di lantai. di sudut ruangan aku melihat salah satu rekanku membersihkan rak, di sudut yang lain rekanku yang lain pula membantu menurunkan buku-buku dari rak tersebut, dan rekanku yang lain pula sibuk menyapu lantai. sedangkan yang aku lakukan hanyalah berdiri, berkacak pinggang, memandangi mereka. miris.

rasanya sombong sekali jika aku tak turun tangan, karena bagaimanapun juga aku mengetahui banyak hal dari buku. maka dengan perasaan sedikit enggan, aku menghampiri rekanku yang sedang membersihkan rak, menyentuh buku-buku yang tergeletak di lantai, memungutnya dan mengenlapnya dengan kain yang aku sendiri tak tau apakah itu taplak meja, atau kain pel, atau bahkan keset. dengan pikiran tak tentu aku mengelap satu per satu buku yang sudah usang termakan usia. dalam hati aku berkaca-kaca, perih rasanya mengetahui buku-buku ini telah rusak. namun sayangnya bukan rusak karena sering terbaca, namun rusak karena terlalu lama didiamkann……

entahlah, waktu berjalan begitu cepat hingga tadinya buku-buku kotor yang tak terhitung banyaknya, telah berhasil aku bersihkan, dan ditata rapi oleh tiga rekanku. ketika aku sedang asyik dalam lamunanku, tiba-tiba salah satu rekanku bergumam, “Contohlah gula. contohlah ikhlasnya. ikklas berperan meskipun tak pernah disebutkan perannya. Wedhang kopi. tentu saja tidak hanya kopi dan air panas, tapi ada sedikit gula yang menyempurnakannya. Es teh. tidak mungkin air, teh, dan es batu. melainkan ada gula yang menjadikannya manis. selama ini ga pernah kita jumpai wedhang kopi gula. ga pernah ada yang seperti itu. tapi meskipun tak pernah disebutkan peranannya, gula tetap ikhlas berperan.”

aku terdiam, membenarkan dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s