Just another WordPress.com site

proposalkuwwww

KEUNIKAN BENTUK LIRIK-LIRIK LAGU PADA
ALBUM METROPOLIS PART II: SCENE FROM A MEMORY DAN
SIX DEGREES OF INNER TURBULENCE
KARYA DREAM THEATER
(PENDEKATAN FORMALISME RUSIA)
Gerhana Kodrat Pradini (07320061)

1. Latar Belakang Masalah
Sastra adalah suatu kegiatan kreativ, bagian dari kehidupan manusia yang merupakan sebuah karya seni cabang dari ilmu pengetahuan. Studi sastra memiliki metode-metode yang abash dan ilmiah, walaupun tidak selalu sama dengan metode ilmu-ilmu alam (Welek and Warren, 1990). Hubungan bahasa dan sastra bagaikan dua sisi uang logam yang tidak bias dipisahkan. Bahasa merupakan media untuk merepresentasikan karya sastra. dengan bahasa karya dapat mempunyai ujud. Karya sastra adalah sesuatu yang mandiri dan berdiri sendiri, dan karena itu tidak tergantung pada unsur-unsur lain, termasuk tidak tergantung pada penyair atau penulisnya. Salah satu kajian sastra, new criticism menerangkan bahwa kajian sastra adalah sebuah kajian yang mandiri atau berdiri sendiri, tidak tergantung pada kajian-kajian lain, seperti sejarah, filsafat, biografi, psikologi dan sebagainya (Darma, 2004).
Dream Theater adalah sebuah band beraliran progressive rock yang berasal dari Boston, Amerika Serikat. Para personilnya mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi, yakni bergelar professor dan berprofesi sebagai dosen di salah satu institut musik di Amerika Serikat. Tidak terhitung lagi penghargaan yang diterima oleh para personil Dream Theater karena masing-masing personil merupakan musisi-musisi terbaik dunia. Pihak label rekaman, Roadrunners menerangkan bahwa Dream Theater bukanlah ‘hit’ band, yang popular di semua kalangan. Namun dengan segenap totalitas dan idealismenya, mereka berhasil menjadi sebuah band yang orisinil, dnegna karya-karyanya yang berbeda dari yang lainnya dan menjadi identitas diri yang melekat erat pada diri mereka. Selera musik yang berbeda dan bercita rasa tinggi menjadi karakter inti. Dream Theater bukanlah band yang mengikuti kemauan pasar, tetapi pasarlah yang mengikuti Dream Theater (Roadrunners, 2007).
Melalui album Metropolis part II: Scene from a Memory ini, Dream Theater mencoba untuk mengajak pembaca dan pendengar mengembara dalam imajinasi penulis. Terdapat dua belas lagu dalam album ini, sepuluh lagu beserta lirik dan dua lagu yang lainnya merupakan lagu instrumental. Bentuknya yang berbeda dengan lagu-lagu pada umumnya. Dengan kata lain, apabila lagu pada umumnya mempuyai format menyerupai puisi, dalam lagu-lagi di Metropolis part II: Scene from a Memory mempunyai format menyerupai puisi naratif yang terdapat cerita di dalamnya dari lagu pertama sampai lagu terakhir. Selain itu banyak majas yang secara eksplisit dapat terlihat di setiap lagu-lagunya. Album ini mempunyai alur cerita flashback yang menurut penulis sangat menarik dan dapat membuat penasaran bagi siapapun yang membacanya. Banyaknya simbol-simbol dalam setiap lagu yang pada dasarnya adalah cerminan dari karakter-karakter dalam cerita juga mewarnai album ini.
Cerita lirik-lirik lagu ini tergolong cerita fiksi yang terinspirasi dari album Dream Theater sebelumnya, Metropolis part I: The Miracle and The Sleeper dari album Images and Words (1992). Sekuel sebelumnya, Metropolis part I: The Miracle and The Sleeper, adalah lagu yang berdurasi 9,32 menit yang kaya akan simbol dengan makna yang cukup filosofis di dalamnya. Dalam hal ini, peneliti cukup tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang sekuel selanjutnya dari Metropolis part I: The Miracle and The Sleeper, yakni, Metropolis part II: Scene from a Memory, terutama bentuknya yang unik dari album karya Dream Theater tersebut.
Selain Metropolis part II: Scene from a Memory, peneliti juga melakukan penelitian terhadap album Dream Theater yang berjudul Six Degrees of Inner Turbulence. Album tersebut juga merupakan album konsep kedua setelah Metropolis part II: Scene from a Memory. Suatu puisi naratif yang mempunyai alur cerita. Karakteristik album konsep sangat kental membaur pada album ini, gaya bahasa yang khas, dan juga tema cerita yang cenderung unik, menjadi salah satu alasan pemilihan data penelitian.
Genre yang diusung oleh Dream Theater dalam kedua album tersebut adalah progressive rock. Progressive rock adalah salah satu genre musik yang terdiri atas campuran dari music rock, jazz, dan tradisional yang menentang aliran-aliran musik populer. Terdapat beberapa ciri-ciri dari aliran musik ini. Pertama, ritme yang cukup rumit, bukan 4/4 atau sinkopasi, namun 5/8, 7/8, 9/8, dan sebagainya. Kedua, skill di atas rata-rata yang dimiliki oleh semua personilnya. Ketiga, Durasi lagu yang melebihi normal, dengan kata lain apabila lagu pada umumnya mepunyai durasi antara tiga menit sampai enam menit, maka lagu dari aliran ini mempunyai durasi di atas sepuluh menit. Keempat, tema yang diusung dalam aliran ini, bukanlah tema percintaan seperti lagu popular pada umumnya, namun lebih bersifat filosofis, metafisik, dan berkenaan dengan lingkungan (Macan, 1997:21).
Ciri-ciri paling menonjol pada aliran ini adalah “album konsep”, yaitu album yang di setiap lagunya mempunyai keterkaitan satu sama lain yang berupa cerita naratif atau epic dengan tema yang sama seperti objek analisis pada penelitian ini, Metropolis part II: Scene from a Memory karya Dream Theater. Dengan komposisi yang berbeda dari lagu popular yang lainnya, progressive rock memberikan sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Lirik lagu yang dalam, aransemen yang rumit, disertai skill yang di atas rata-rata dari semua personilnya, progressive rock mampu menyajikan seni yang berkualitas (Macan, 1997: 25).
Pada dasarnya, peneliti tidak hanya menganalisis satu atau dua lagu, namun semua lirik lagu dari album Metropolis part II: Scene from a Memory dan album Six Degrees of Inner Turbulence dengan menggunakan pendekatan Formalisme Rusia dan menerapkan teori dari Shklovsky, defamiliarization and automatization (defamiliarisasi dan otomatisasi) dan sjuzet and fabula. Ciri-ciri pokok metode ini adalah menganalisis unsur-unsur dari sebuah karya sastra dan bagaimana menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain secara total (Ratna, 2004: 50). Secara umum, sebuah lirik lagu identik dengan puisi, namun tidak demikian dengan lagu-lagu dalam album Metropolis part II: Scene from a Memory. Lagu-lagu dalam album merupakan puisi naratif, karena terdapat cerita yang saling berhubungan dalam semua lagu.

2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemilihan kata dalam album Metropolis part II: Scene from a Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence karya Dream Theater?
2. Bagaimana penceritaan kisah dalam album Metropolis part II: Scene from a Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence karya Dream Theater?
3. Apa keunikan dari album Metropolis part II: Scene from a Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence karya Dream Theater karya Dream Theater?

3. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengidentifikasi pilihan kata dalam album Metropolis part II: Scene from a Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence karya Dream Theater.
2. Untuk memahami penceritaan dalam album Metropolis part II: Scene from a Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence karya Dream Theater.
3. Untuk menidentifikasi keunikan dari album Metropolis part II: Scene from a Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence karya Dream Theater.
4. Manfaat Penelitian
Terdapat dua macam manfaat dalam penelitian ini, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. Manfaat teoretis dari penelitian ini adalam sebagai bukti bahwa kekayaan dan keindahan sastra tidak hanya milik prosa, puisi, dan drama. Akan tetapi keindahan karya sastra dapat ditemukan dalam lirik-lirik lagu. Selain itu, dengan menggunakan pendekatan formalism rusia, keindahan dan keunikan lirik-lirik lagu tersebut akan dapat teridentifikasi dengan jelas. Sedangkan manfaat praktis dari penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan informasi mengenai karya sastra, teori, dan terutama dapat menjadi sumberbagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian pada objek yang sama.

5. Penelitian Sebelumnya
Salah satu mahasiswa Universitas Diponegoro yang bernama Denny Winanto telah melakukan penelitian terhadap album Metropolis part II: Scene from a Memory yang berkonsentrasi pada individualism tokoh “The Miracle” dalam Metropolis part II: Scene from a Memory karya Dream Theater. Penelitiannya telah memberikan inspirasi bagi penulis untuk melakukan penelitian pada objek yang sama namun dengan pendekatan yang berbeda. Penelitian sebelumnya telah melakukan analisis tokoh pada karya tersebut, sedangkan pada penelitian saat ini, penulis mencoba hal baru dengan menerapkan pendekatan formalisme rusia untuk melakukan analisis bentuk pada lirik-lirik lagu pada album Dream Theater, Metropolis part II: Scene from a Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence.
6. Landasan Teori
6.1. Formalisme Rusia
Landasan teori dalam penelitian ini adalah teori Formalisme Rusia yang awal kemunculannya merupakan reaksi terhadap romanticism period, yang mempunyai paradigma bahwa keindahan sastra terletak pada sastra itu sendiri, atau dengan kata lain kakuatan karya sastra terletak pada teks itu sendiri tanpa terpengaruh oleh aspek-aspek lain (otonom). Otonomi merupakan ciri khas mutlak kajian intrinsik, kendari teori-teori tersebut tidak menutup kemungkinan untuk mempertimbangkan unsur ekstrinsik karya sastra, setiap kajian tidak mungkin lepas dari nilai-nilai intrinsik karya sastra itu sendiri (Darma, 2004: 56). Formalisme mengutamakan pola-pola suara dan kata-kata formal, bukan isi. Oleh karena itu cara kerjanya disebut formal. Tujuan polok Formalisme Rusia adalah studi ilmiah tentang sastra, dengan cara meneliti unsur-unsur kesastraan, puitika, asosiasi, oposisi dan sebagainya (Bennet, 1979).
Karya sastra, khususnya puisi adalah bahsa yang khas, pemakaian bahasa yang dianggap menyimpan dari bahasa sehari-hari atau bahasa normal. Sudah sejak abad V bahasa puisi atau karya sastra dibedakan dari bahsa sehari-hari. Bahasa sastra adalah artes (ars adalah kepandaian teknis ilmiah, serta aturan-aturan). Hal itu mendorong penelitian ke arah sarana-sarana bahasa yang dipakai dalam karya saastra (Teeuw, 1988: 70).
Kaum Formalisme Rusia mulai menekuni kekhasan bahasa kesusastraan karena tidak puas dengan penelitian sastra yang bersifat psikologi, sosiologis, sejarah, dan pesitivisme (yang membicarakan masalah tokoh, tema, motif, lepas dari karya sastra yang kongkret). Titik berat kaum Formalisme Rusia pada penelitian mencakup ciri khas sebuah karya sastra dan sifat kesastraan sebuah karya sastra (Teeuw, 1988: 73). Selain itu, Formalisme Rusia ingin membebaskan ilmu sastra dari lingkungan ilmu-ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, dan sejarah. Mereka ingin mencari cara membedakan sastra dari ungkapan sehari-hari (Teeuw, 1988: 131)
Tujuan pokok Formalisme Rusia adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsure-unsur kesastraan, puitika, asosiasi, oposisi, dan sebagainya (Bennet, 1979). Formalisme Rusia bertujuan untuk menggali secara dalam tentang teks sastra secara spesifik dan lebih banyak menggunakan metode ilmiah untuk menganalisa suatu karya sastra. Formalisme Rusia menganggap ‘isi’ manusia (emosi, perasaan, ide, dan sebagainya) sebagai sesuatu yang tidak berarti, karena karya sastra bisa berdiri sendiri tanpa semua komponen tersebut (Selden, 185: 6).
Mukarovsky juga memandang karya seni sebagai tanda otonom yang hanya ditandai oleh fungsi engantara di antara anggota-anggota kelompok yang sama. Karya seni tidak bisa digunakan sebagai dokumen sosiologis atau historis, kecuali jika nilai dokumenternya mempunyai relasi dengan konteks social yang telah diterapkan. Pada dasarnya, cara kerja Formalisme Rusia tidak ingin merusak teks sastra atau mereproduksinya dalam bentuk yang lebih rendah mutunya. Formalisme mencoba untuk menjembatani jurang pemisah antara abstraksi dengan teks tertentu dengan memperkenalkan konsep fungsi (Fokkema, 1998: 41). Satu karakteristik yang kual dalam aliran Formalis adalah hubungannya yang dekat dengan penulisan kreatif.
Pada fase awal Formalisme Rusia didominasi oleh Viktor Shklovsky. Salah satu teorinya yang paling terkenal adalah defamiliarisasi (ostraine: ‘menjadikannya aneh’). Ia berpendapat bahwa semua orang bisa tidak pernah menahan kesegaran dari persepsi terhadap objek; tuntutan dari eksistensi keadaan normal yang membutuhkan sesuatu untuk menjadikannya sebagai pokok tingkat otomatisasi (Selden, 1985: 8). Proses otomatisasi bisa menerangkan alasan sebuah kalimat yang baru, belum selesai, atau bahkan masih setengah kata dalam bahasa praktis seringkali sudah memadie. Dengan syarat citraan yang memang perlu dibuat singkat.
Kaum Formalisme Rusia ternyata mencari “the device of waking is strange” atau sarana mengasingkan karya yang disebabkan deotomatisasi atau defamiliarisasi. Hal itu tidak hanya berlaku pada karya sastra puisi, tetapi juga pada prosa (struktur naratif). Misalnya peristiwa di akhir ditepatkan di awal cerita atau sarana logika cerita dikacaukan sehingga sebuah plot terlihat ruwet yang kemudia harus dikembalikan pada plot yang waja. Kaum Formalisme Rusia menganggap bahwa deotomatisasi merupakan proses sastra yang mendasar atau disebut juga penyimpangan. Terdapat dua jenis penyimpangan, yaitu penyimpangan sinkronik, penyimpangan dari bahasa sehari-hari dan penyimpangan diakronik, penyimpangan dari karya sastra sebelumnya (Teeuw, 1988: 131-132).
Selain otomatisasi, teknik defamiliarisasi juga digunakan dalam pendekatan Formalisme Rusia. Defamiliarisasi adalah proses pembentukan kalimat biasa menjadi tidak biasa, unik, dan tidak umum. Dengan kata lain, membuat karya sastra lebih hidup dengan “kesastraannya” (Selden, 1985:9). Dalam naratologi kaum Formalisme Rusia mencari cara untuk menghubungkan beberapa episode cerita. Mereka meneliti teknik cerita berbingkai dan relasi antara tokoh-tokohnya, terutama yang mempunyai hubungan kekeluargaan. Sasaran utama mereka adalah menemukan teknik sebuah cerita dibuat. Konsep fabula adalah lawan dari konsep sjuzet.
Pada esai Viktor Shklovsky, “Seni sebagai Teknik” dikatakan bahwa bahasa praktis mencoba untuk menjadi singkat melalui pembiasaan, tindakan (ermasuk perilaku percakapan) menjadi otomatis. Dalam esai tersebut juga dijelaskan baha tujuan dari seni adlah untuk menanamkan sensasi dari yang pembaca rasakan, bukan dari yang pembaca tahu. Teknikk seni adalah membuat objek (kata-kata, kalimat) menjadi tidak familiar, anek, dan menjadi bentuk yang rumit dan juga untuk menambahkan kerumitan dan lamanya persepsi, karena proses dari persepsi adalah nilai estetik dari karya tersebut dan harus diperpanjang (Selden, 1985: 10).
Melalui esai yang sama, Viktor Shklovsky menerangkan cara seni dapat berfungsi sebagai teknik. Hal tersebut tercermin dalam sebuah kalimar ‘rusa yang mati’. Dengan hanya membaca kalimat tersebut, pembaca tidak mungkin bisa mengidentifikasi keindahan dari kalimat tersebut. Namun melalui seni, kalimat tersebut dapat dirumitkan dengan teknik kefamiliarisasi (menjadikannya aneh) menjadi, ‘seekor rusa yang menawan itu, akhirnya terhuyung-huyung tak berdaya setelah kaki jenjangnya terkena panah sang pemburu. Tatapan matanya mendadak sayu, tak lagi bersinar lagi seperti saat ia masih berlari lincah menghindari kejaran sang pemburu’. (Shklovsky, Art as Technique: 1914)
Menurut Shklovsky, fabula adalah deskripsi rangkaian peristiwa atau lebih tepatnya sebagai penggambaran rangkaian kejadian dalam tatanan yang urut. Fabula dapat dikenali melalui sarana-sarana semantik. Sedangkan sjuzet adalah struktur naratif atau plot. Menurut kaum Formalisme Rusua, sjuzet adalah cara penyajian materi semantik dalam teks tertentu (Fokkema, 1998: 23). Selain itu, sjuzet adalah plot, yang secara sempurna merupakan bagian dari narasi, sedangkan fabula adalah materi mentah yang haris disusun oleh pengarang agar tercipta satu kesatuan cerita (Selden 1985: 12). Selain melihat karya sasta melalui unsur-unsur kalimatnya, pendekatan Formalisme Rusia juga melihat suatu karya sastra naratif melalui cerita dan penceritaannya atau lebih dikenal dengan “sjuzet” dan ”fabula”. Menurut Skhlovsky, fabula adalah cerita, kronologi dari kisah naratif yang terstruktur secara sistematis dalam suatu naskah. Sedangkan sjuzet adalah plot, cara kronologi diceritakan dan sebagai batasan waktu dari cerita tersebut (Bennet, 1979: 17).

7. Metode Penelitian
7.1. Desain Penelitian
Penelitian ini di desain sebagai penelititan karya sastra. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kritik sastra sebagai desain penelitiannya yang mendukung penelitian, karena hanya kritik sastra yang dapat berhubungan langsung dengan karya sastra.
Berdasarkan judul di atas, penelitian ini berhubungan dengan bentuk dari karya sastra itu sendiri. Peneliti ingin mendeskripsikan dan mengidentifikasi keunikan bentuk dari Metropolis part II: Scene from Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence karya Dream Theater dengan menggunakan pendekatan formalisme.

7.2. Sumber Data
Data dari penelitian ini adalah lirik lagu yang diambil dari album Metropolis part II: Scene from Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence karya John Petrucci, Mike Portnoy, James LaBrie, Jordan Ruddes and John Myung yang tergabung dalam band progressive rock yang bernama Dream Theater. Album tersebut dipublikasikan oleh Magna Carta Record pada tahun 1999 dan oleh Elektra Record pada tahun 2002.

7.3. Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini diambil dari lirik Metropolis part II: Scene from Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence karya Dream Theater. Proses dari pengumpulan data itu sendiri dimulai dari proses mendengarkan lagu dari album Metropolis part II: Scene from a Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence, kemudian membaca liriknya secara berulang-ulang. Kemudian peneliti mencoba untuk menemukan kata-kata dan kalimat-kalimat yang mengandung gaya bahasa serta memahami jalan cerita dari album tersebut, kemudian peneliti mengklasifikasikannya dan memeriksa kembali data yang siap untuk diolah.
7.4. Penganalisisan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan Formalisme Rusia dengan menerapkan teori milik Viktor Skhlovsky. Terdapat dua teori milik Skhlovsky yang terkenal yaiku, defamiliarisasi dan otomatisasi, serta sjuzet tan fabula. Melalui teknik tersebut, peneliti mengklasifikasikan data-data yang mengandung defamiliarisasi dan otomatisasi, kemudian menganalisis cerita dan penceritaan dalam cerita pada album Metropolis part II: Scene from a Memory dan Six Degrees of Inner Turbulence karya Dream Theater.
8. Sistematika Penulisan
Dalam penelitian ini, akan terdapat empat bab. Bab pertama adalah pendahuluan, kemudian dilanjutkan bab kedua yang berisi landasan teori kemudian dilanjutkan bab tiga yang memuat analisis atau pembahasan dan ditutup dengan bab empat yang merupakan bab terakhir sebagai kesimpulan.

Daftar Pustaka
Bennet, Tony. 1979. Formalism and Marxism. USA: Methuen & Co Ltd.
Darma, Budi. 2004. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa.
Fokkema, DW. 1998. Teori Sastra Abad Kedua Puluh. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Macan, Edward. 1997. Rocking the Classics: English Progressive Rock and the Counterculture. Oxford: Oxford University Press.
Ratna, Nyoman Kutha.2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Shelden, Raman. 1985. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Sussex: The Harvester Press Limited.
Shklovsky, Viktor. 1990. Theory of Prose. Trans. Benjamin Sher. Elmwood Park: Dalkey Archive.
Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya
Theater, Dream. 1999. Metropolis part II: Scene from a Memory. Boston: Magna carta Record.
Theater, Dream. 2002. Six Degrees of Inner Turbulence. Boston: Elektra Record.
Wellek, René, and Austin Warren. 1990.Theory of Literature. 3rd. rev. ed. San Diego: Harcourt Brace Jovanovich.
Dominici, Charlie. It’s not a ‘Hit’ band. Diakses pada tanggal 31 Desember 2010 melalui http://www.roadrunners.com

One response

  1. Arief Kurniawan

    ini manyuuuuzzzz tennaaaannnnnnnnn…………..!!!!!!!!!! \m/

    Januari 2, 2012 pukul 1:20 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s