Just another WordPress.com site

Terbaru

Ga Usah Nanya!!!!!

malu bertanya sesat di jalan

itu pepatah kuno, tapi tetep manjur di jaman sekarang. misalnya pas travelling di tempat baru dan kita ga tau  arah, sangat dianjurkan buat nanya ke penduduk setempat. kalo malu nanya, mati aja!!! (haha, just kidding, rek). di kesempatan kali ini, aku mau bahas tentang tanya-menanya. bertanya merupakan kata kerja yang digunakan saat kita ga tau apa-apa dan butuh jawaban. ok? garis besarnya bertanya lah saat kita bener2 ga ngerti… contoh simpel,

Pak guru: ada yang ditanyakan?? (nah, si guru bener2 pengen tau, apa semua muridnya udah paham ato blom.)
murid: ada pak, bagaimana bisa teori peluang diterapkan dalam kasus togel? (mampus! si murid bener2 pengen tau tuh. hahaha)

nah kayak kasus simpel di atas, seyogyanya kita bertanya pas kita bener2 ga tau. karena kadang ada beberapa situasi yang ga butuh2 bgt buat tanya. misal, pas kita lagi niat bgt buat sedekah, ato ngasih sesuatu. bukan apa, ga etis aja, pas ada pengemis melintas di depan kita, ga mungkin bgt kan kita tanya, “pak, mau saya kasih uang ga?”
nah loh, kalo kalian jadi pengemisnya mau jawab apa?? aduh, pliss deh. mau ngasih, ngasih aja. ga usah nanya!!!!!
karena pada dasarnya kita, sebagai orang Indonesia, yang hidup di tanah Jawa, dan mau-gak-mau budaya sungkan masih terus melekat, tentu aja sebagai pihak dengan tangan di bawah akan merasa sungkan mau meng-iya-kan meskipun dalam hati pengen banget bilang IYA!

sama halnya dengan ketika kita lagi banyak uang trus pengen beliin adek, sodara, pacar, sepupu, temen, ortu, kakak, pakdhe, budhe, dll sesuatu, ga usah lah kalian tanya ke mereka, mereke mau dibeliin sesuatu sama kita ga??
langsung dibeliin knapa?? toh pada akhirnya bakalan diterima kok!!

ini contoh nyata, beberapa minggu yang lalu orang tuaku datang di pengajian 7 hari pakdhe, trus pas kelar ngaji, si keponakan ayah bilang ke ayah, “Lek, arep lontong kupang a??” automatically, ayah enggan. karena dia pikir, banyak tamu, sungkan, dan ga enak aja diliat orang, tamu2 belom pulang masa’ mau ditinggal makan….. lah di sini, aku menempatkan diri di posisi ayah (ga maksud subjektif loh) kalo mau beliin, ya langsung bliin aja, ntar kalo tamu-tamu udah sepi, kan dimakan. ga usah lah, pake tanya.

well, pokoknya kalo mau ngasih, beliin, dan mau berbuat baik apapun ke orang lain, ga usah pake tanya. langsung lakuin aja, ga ada salahnya kok. malah, kalo pake nanya, IMHO keliatan ga ikhlasnya.
Toh Tuhan juga ga pernah tanya ke kita apa kita mau hidup lama ga, kita mau pinter ga, kita mau kaya ga, kita mau sehat ga, dll…. dengan segala kemurahannya, Tuhan ngasih kita banyak hal, tanpa kita minta.

:)Image

Gandholane Ati

gandholane ati…..
ada beberapa kosa kata Bahasa Jawa yang tidak bisa di-Indonesiakan. mungkin bisa, tapi artinya ga bisa pas. misalnya ana wit nangka sempal ngarep omahku. kata yang bergaris bawah kalo di-Indonesiakan bisa berarti patah, putus, atau tumbang. (tapi bagi orang Jawa, padanan tersebut kurang pas) karena sempal itu sendiri berarti patah yang tanpa di sengaja, bisa jadi faktor alam namun tidak bisa digunakan untuk benda kecil, sejenis ranting karena jika ranting yang patah, maka orang Jawa biasa menggunakan kata cuklek
nah loh, ga bisa pas artinya…
ok, kita mulai dari definisi per kosa kata, gandholan artinya bisa bergantung, bergelantungan, berpegangan, dll. dan ati adalah hati…. lah kalo digabung menjadi gandholane ati yang berarti gantungan hati. (tetep aja ga pas).
gandholane ati biasa digunakan untuk menyebut orang yang kita sayangi, karena orang tersebut selalu menggantung di hati kita. But in the other case, gandholane ati juga bisa dipake buat anak emas. nah, itu yang akan dibahas di sini. pembahasan dimulai dari pertanyaan, kapan para orang tua bisa melepas dan merelakan anaknya sebagai pribadi yang dewasa dan bisa mengambil keputusan atas hidup si anak itu sendiri??
ini yang sering meresahkan. kadang para orang tua masih bersikap kekanak-kanakan dengan menganggap golden child mereka sebagai gandholane ati yang terus-menerus harus menuruti kemauan para orang tua tanpa memedulikan apa yang menjadi desire si anak itu sendiri. hufh. dan parahnya lagi, si anak dengan “dungu” nya masih mau saja dikendalikan orang tua di setiap gerak-gerik hidup mereka. ohhh, come on….. wake up pliss….
you have to live your life. this is your own life. not your parents’ life. ok, jangan salah paham dulu, wahai para pembaca yang arif nan budiman, aku hanya membantu kalian untuk membuka mata bahwa kalian adalah pribadi yang dewasa dan matang, yang bisa mengambil keputusan atas jalan hidup kalian. meminta pendapat ke orang tua, sangat disarankan. menerima saran dari oran tua, selama saran itu bagus dan membangun, why not? tapi kalo saran dari orang tua cenderung memerintah dan hanya berdasarkan emosi, you have to think a hundred times before you take it. well, kita lanjut ke contoh kasus.
anak:”mak, aku mau nglanjutin kuliah di ITS”
emak:”ITS? opo kuwi?? ora usah kakean polah. kate dadi opo kuliah nang ITS? wes nang IKIP wae, engko dadi guru.” (karena si emak cupu+jadul, jadi ga ngerti perkembangan jaman. karena itu pula dia ga tau kalo peluang kerja bagi sarjana teknik sungguh sangat besar dibanding menjadi seorang guru. helloooowwwhhh, guru jaman sekarang sudah membludak!!!!! kalo semua jadi guru, siapa yang mau jadi muridnya???)

nah, itu salah satu contoh simpel. sebagai pribadi yang cerdas, apa kalian bakal nurutin kemauan ortu gitu aja??? hey, ga selamanya ortu benar. kadang sebagai anak, kita juga harus bisa ngasih tau ortu tentang perkembangan jaman. dengan cara yang sopan tentunya agar kita juga bisa dapetin rodhonya, karena kita ga bisa mungkir bahwa;
 رضا الله في رضا الوالدين و سخط الله في سخط الوالدين
yang artinya Ridha Allah pada ridha orangtua dan murka Allah pada murka orangtua (H.R.Al-Baihaqy)

ok, simple aja, ga semua orang tua bisa bersikap demokratis. kadang ada orang tua yang tanpa kita sadari bersikap so bossy terhadap anak-anak mereka. itu yang wajib diwaspadai. tanpa mengurangi rasa hormat terhadap orang tua manapun sedikitpun, aku hanya ingin membuka mata kalian bahwa yang bertanggung jawab atas hidup kita, adalah diri kita sendiri…

ok, finally, pertanyaanku masih sama bagi para orang tua manapun seluruh dunia, sampai kapan kalian, para orang tua bisa melepas dan merelakan anak kalian sebagai pribadi yang dewasa dan bisa mengambil keputusan atas hidup merekasendiri??

#reminder

Image

Sungkan, Apasihhh?

Tiba-tiba saja pagi ini aku tertarik untuk berdiskusi tentang kata unik yang satu ini, “sungkan”.
menurutku, ga ada definisi yang akurat untuk kata yang satu ini. sungkan adalah salah satu kata dalam Bahasa Jawa yang mempunyai definisi. suatu perasaan malu, segan yang bercampur akibat rasa hormat terhadap sesuatu.
misal, sungkan bilang enggak karena dia lebih tua, lebih kaya, lebih berkuasa, dll.
nah, IMHO, sungkan dalam hidupku (hidupku! bukan hidup orang lain) saat ini lebih banyak mendatangkan rugi daripada untung. contohnya, ketika dalam proses mencari kerja, aku harus bersusah payah menghabiskan waktu seharian untuk melaksanakan serangkaian tes-tes yang melelahkan. ang lain langsung Pada waktu itu, ada 6 orang kandidat. dan 3 orang yang lain ga sore-sore banget kelarnya. lah dalam hati aku percaya diri kalo bakal lolos, karena dua orang yang tertinggal bersamaku langsung diterima dan langsung kerja. trus, di ujung acara aku langsung bertanya ke pihak HRD, “Pak, kapan kira-kira saya dihubungi lagi?” and you know what did he said??? “Nanti mbak seminggu lagi.” oke, maka dengan penasaran dan keyakinan penuh, aku menunggu selama seminggu. Seminggu pun berlalu tanpa ada telepon atau SMS dari bapak ituu. Lah, kalo emang dari awal aku ga diterima, ngapai pake suruh nunggu? pasti si bapak HRD tuh sungkan ke aku, karena mungkin pengen jaga perasaanku biar ga kecewa. tsahhh…. tapi what for gituu??? toh dengan kayak gini sama aja dia ngasih harapan palsu ke aku…
and you know what, hal sungkan tersebut ga terjadi sekali, dua kali. tapi hampir di semua perusahaan. pasti disuruh nunggu, tapi akhirnya ga ada kabar sama sekali…. GELO!!!
kenapa harus ada sungkan???
belum lagi kalo bahas fenomena sungkan tuh di masyarakat, wuiiiiihhh, bakal panjang ceritanya. contoh kecil, ketika si kaya raya dan si miskin hidup bertetangga…. ketika si kaya akan berangkat kerja dan ia punya jemuran baju di depan rumah, dengan entengnya dia pasti berani minta tolong ke si miskin untuk angkatin jemurannya kalo ujan. tapi ketika si miskin yang berangkat kerja dan ia punya jemuran baju, apa berani dia minta tolong ke si kaya raya??? tentu perasaan sungkan tersebut akan mendominasi..
OK, seiring berjalannya waktu, dan mungkin perjalananku masih panjang, selama itu pula aku akan mencari manfaat dari kata sungkan tersebutt.
see yaaaa

Ketika Ilmu Kehilangan Peranannya

Oke, mari kita mulai membicaraan ini dengan hati yang sedikit berkurang kgejolaknya. Terus terang, keadaan yang ada di hadapanku 180 derajat berbeda dengan apa yang aku alami 8 tahun lalu, saat aku seusia mereka. Bagiku, ilmu adalah baju. yang harus ku pakai terus menerus. Tanpa ilmu, aku telanjang. dan jika aku telanjang, maka aku tak akan lagi punya muka untuk menatap dunia. Bagiku, ilmu adalah harta. tanpa ilmu, aku tak akan mampu bersenang-senang dan membeli apapun. Bagiku, ilmu adalah identitas. tanpa ilmu, mungkin aku bukan siapa-siapa dan orang tak mungkin mengenalku. Bagiku, ilmu adalah semangat. tanpa semangat, aku tak akan bisa melakukan apa-apa, bahkan mungkin aku tak akan bisa menghasilkan apa-apa. oleh karena itu, aku tak pernah lelah mencari ilmu. aku bertanya kepada siapapun, tentang hal apapun yang aku tak tahu. entahlah, rasanya gairah ini tak pernah berhenti untuk mencari ilmu dan pengetahuan.. bahkan di usiaku yang sekarang ini, yang pada umumnya memasuki usia-usia kerja, aku masih giat mencari tau tentang apapun. maaf, bukannya aku sombong, hanya saja, ilmu adalah kebanggaanku. harta aku tak punya, wajah, aku pun tak rupa.

namun satu yang membuat aku miris, di sini aku terduduk diam, di depan 36 kepala yang tentu saja berotak. namun hanya segelintir yang benar-benar membutuhkan ilmu. saat ada 4 kepala sebagai pembicara di depan, dan 32 kepala yang lain sebagai audience, hanya beberapa kepala yang benar-benar memperhatikan. bahkan, jari tanganku saja tak habis untuk menghitung mereka yang memperhatikan. aku bingung, apa mereka tak butuh ilmu, tak mau tahu, atau ilmu tak penting bagi mereka? mereka-mereka yang mengabaikan hanya bisa memperhatikan setiap sudut wajahku, kemudian memnjadikannya pembicaraan dengan teman-teman yang lain. kalau tidak memperhatikan wajahku, mereka akan memukul-mukul bangku bak drummer hebat dan menyanyi sesuka mereka.

oh my, this is classroom. apa mereka memang dungu, atau obsesi sebagai drummer mengalahkan rasionalitas mereka?

di sini, aku. guru mereka. penransfer ilmu mereka. seharusnya

tapi yang terjadi

aku, di sini. hanya pajangan. miris.

 

apa aku terlalu lelah untuk mengingatkan mereka? atau mereka yang berotak batu, sehingga tak mengerti bahasaku? entahlah…

dalam hati aku berujar, “Terima kasih Tuhan, telah mendamparkanku di tempat ini. di sini aku bisa belajar banyak hal, bahwa ilmu memiliki arti dan peran yang berbeda di setiap kepala yang berbeda. Dan aku masih mempunya segelintir murid yang melakukan perannya dengan baik, dan masih memberikan peran untuk ilmu yang sesuai.”

Gula, dan Yang Tak Tersebut

Dan tentu saja dengan komando sebelumnya dari atasan, aku dan tiga orang rekanku segera memasuki perpustakaan yang lama tak terpakai. kami tidak berempat, melainkan bersama segerombolan pencari ilmu. kami berbondong-bondong masuk dengan maksud membersihkan isi perpustakaan ato lebih tepatnya gudang buku, agar semua tertata rapi dan bisa berfungsi sebagaimana mestinya. hal pertama yang menyapa kami ketika kami masuk adalah debu, dan pasti bau apak dari tumpukan buku-buku yang tak tersentuh. dengan sedikit perasaan jijik, perlahan aku menurunkan buku-buku tersebut, agar kami bisa membersihkan rak tersebut. panas yang tak tertahankan mau tidak mau harus kurasakan tatkala harus berbaur dengan para pencari ilmu yang juga berada di dalam perpustakaan…

jujur saja, ingin rasanya aku keluar dari gudang buku ini, mencuci tangan, dan menikmati irisan-irisan melon yang telah terhidang di meja kantor. namun nuraniku terpanggil untuk menyentuh buku-buku yang tergeletak di lantai. di sudut ruangan aku melihat salah satu rekanku membersihkan rak, di sudut yang lain rekanku yang lain pula membantu menurunkan buku-buku dari rak tersebut, dan rekanku yang lain pula sibuk menyapu lantai. sedangkan yang aku lakukan hanyalah berdiri, berkacak pinggang, memandangi mereka. miris.

rasanya sombong sekali jika aku tak turun tangan, karena bagaimanapun juga aku mengetahui banyak hal dari buku. maka dengan perasaan sedikit enggan, aku menghampiri rekanku yang sedang membersihkan rak, menyentuh buku-buku yang tergeletak di lantai, memungutnya dan mengenlapnya dengan kain yang aku sendiri tak tau apakah itu taplak meja, atau kain pel, atau bahkan keset. dengan pikiran tak tentu aku mengelap satu per satu buku yang sudah usang termakan usia. dalam hati aku berkaca-kaca, perih rasanya mengetahui buku-buku ini telah rusak. namun sayangnya bukan rusak karena sering terbaca, namun rusak karena terlalu lama didiamkann……

entahlah, waktu berjalan begitu cepat hingga tadinya buku-buku kotor yang tak terhitung banyaknya, telah berhasil aku bersihkan, dan ditata rapi oleh tiga rekanku. ketika aku sedang asyik dalam lamunanku, tiba-tiba salah satu rekanku bergumam, “Contohlah gula. contohlah ikhlasnya. ikklas berperan meskipun tak pernah disebutkan perannya. Wedhang kopi. tentu saja tidak hanya kopi dan air panas, tapi ada sedikit gula yang menyempurnakannya. Es teh. tidak mungkin air, teh, dan es batu. melainkan ada gula yang menjadikannya manis. selama ini ga pernah kita jumpai wedhang kopi gula. ga pernah ada yang seperti itu. tapi meskipun tak pernah disebutkan peranannya, gula tetap ikhlas berperan.”

aku terdiam, membenarkan dalam hati.

Aku Bertanya……..

Sebuah dialog kecil antara aku dan Tuhan

Wednesday 5:15/ February 22, 2012.

Tuhan,

Aku ingin bercerita,

Siang tadi, aku berkenalan dengan realita

Dia mengajakku bermain dan bergembira,

Berlari dan tertawa bersama

Dia menggandeng erat tanganku,

Mengajakku masuk ke sebuah rimba yang sendu

Asing, Tuhan. Setidakknya bagiku..

Namun aku hanya bisa diam terpaku

Realita terus mengajakku masuk kedalamnya

Menelusuri tiap celah rumitnya,

Yang sengaja membuat aku terlupa,

Hingga aku tersesat di bagian tergelapnya

Hingga siang berlalu,

Realita hanya bisa terdiam menunggu

Tanpa bisa berbuat sesuatu

Bisu sambil memandangiku

Saat gelap mulai merayap,

Pecahlah tangisku yang kian menyayat

Aku tercekat,

Sadarlah bahwa aku benar-benar tersesat

Sampai aku meraung-raung,

Realita hanya termenung

Hingga petang begitu syahdu,

Dan kabut mulai beradu

Relita hanya terpaku menatapku

Hingga aku kian tersedu,

Menanti jawab untuk terang

Menunggu petunjuk untuk pulang

Berharap penyelamat akan datang,

Berdoa agar semuanya menghilang,

Aneh, realita tergelak

Terbahak,

Aku tersentak,

Aku terjebak,

Pikiranku tergerak,

Perlahan aku merangkak,

Dan berteriak,

Inilah realita!

Dan aku tesungkur ke dalamnya!

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Sebuah dialog kecil antara aku dan Tuhan

Wednesday 5:15/ February 22, 2012.

 

Tuhan,

Aku ingin bercerita,

Siang tadi, aku berkenalan dengan realita

Dia mengajakku bermain dan bergembira,

Berlari dan tertawa bersama

Dia menggandeng erat tanganku,

Mengajakku masuk ke sebuah rimba yang sendu

Asing, Tuhan. Setidakknya bagiku..

Namun aku hanya bisa diam terpaku

Realita terus mengajakku masuk kedalamnya

Menelusuri tiap celah rumitnya,

Yang sengaja membuat aku terlupa,

Hingga aku tersesat di bagian tergelapnya

Hingga siang berlalu,

Realita hanya bisa terdiam menunggu

Tanpa bisa berbuat sesuatu

Bisu sambil memandangiku

Saat gelap mulai merayap,

Pecahlah tangisku yang kian menyayat

Aku tercekat,

Sadarlah bahwa aku benar-benar tersesat

Sampai aku meraung-raung,

Realita hanya termenung

Hingga petang begitu syahdu,

Dan kabut mulai beradu

Relita hanya terpaku menatapku

Hingga aku kian tersedu,

Menanti jawab untuk terang

Menunggu petunjuk untuk pulang

Berharap penyelamat akan datang,

Berdoa agar semuanya menghilang,

Aneh, realita tergelak

Terbahak,

Aku tersentak,

Aku terjebak,

Pikiranku tergerak,

Perlahan aku merangkak,

Dan berteriak,

Inilah realita!

Dan aku tesungkur ke dalamnya!

setelah 8 bulan terpuruk dalam sumur gelap….

guyyysss….
aku mau berbagi cerita dikit tentang kehidupan percintaanku..
aku kemaren2 sempat melalui 8 bulan yang sangat2 tidak mengenakkan, krisis hati berkepanjangan, yang nyaris ga ada ujungnya… sempat pula menjauhkan angan tentang pernikahan, dan segala sesuatu yang berbau pasangan. benar-benar pengen hidup sendiri, mandiri.
masalah tuh juga yang bikin aku jadi seorang self injury (kumat, karena sebenernya aku seorang self injury sejak umur 13 tahun),,
waktu aku ada di masa2 yang kerap aku sebut “sumur gelap” tu, aku ngrasa down bgt. aku sadar, aku punya Tuhan, tapi tuh sebatas dipikiranku. aku tetep nyakiti diri sendiri buat nutupi sakit atiku…
sampek akhirnya aku bercermin, terus terang aku kaget, liat lingkaran item di sekitar mata, tangan penuh gores2 merah kehitaman, bekas luka n luka baru bercampur jadi satu, seketika tu aku nangis, dalam hati aku tereak, aku jenuh sakit….
aku kmbali ke Tuhan, minta petunjuk, minta disembuhin, minta dibimbing, minta dikuatkan, n minta diperlihatkan jalan keluar.
dan akhirnya sekarang, aku bisa sembuh. sembuh jasmani rohani…., berkat Tuhan, juga dukungan dari orang yang memberikanku rasa sakit. , ga ada tempat mengadu paling tepat selain Tuhan….
untuk kedepannya, masalah percintaanku, aku lebih memilih untuk diam, karena di masa lalu, aku dah terlalu banyak bicara. udah saatnya aku diam.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.